Gerbangkomputer

Download,Aplikasi,software,Tips dan trick,Tutorial,Kesehatan,Bisnis,Berita Unik,free mp3 dan lainnya gratis semua hanya disini

Kisah Mus'ab bin Umair, Shahabat yang Mengislamkan Penduduk Madinah

Kisah Mus'ab bin Umair, Shahabat yang Mengislamkan Penduduk Madinah

Jika kita hari ini takjub dengan tokoh-tokoh muslim yang terkenal karena telah banyak mengislamkan banyak orang seperti Dr. Dzakir Naik yang mengislamkan ribuan orang di kancah internasional, atau Ustadz Sabun (Ustadz Fadhlan) yang mengislamkan banyak orang di pulau Papua di negeri Indonesia, sesungguhnya generasi sebelum kita pun telah lahir banyak duta dakwah yang militan mengislamkan banyak orang. Adalah Mus'ab bin Umair, salah seorang shahabat Nabi yang menjadi duta dakwah pertama. Beliau adalah orang pertama yang diberikan amanah untuk berdakwah di Madinah. Jauh sebelum masa keislamannya, Mus'ab bin Umair adalah sosok pemuda yang paling tampan, kaya, dan selalu berpenampilan necis dibandingkan pemuda-pemuda arab lainnya. Namun setelah ia memeluk Islam, ia menjadi sosok yang hidup amat sederhana. Beliau lebih memilih mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan dakwah Islam. Sesampainya Mus'ab di Madinah, jumlah muslim disana baru berjumlah 12 orang, merekalah yang mendatangi Rasulullah untuk membai'atnya di bukit Aqabah. Ia ingin agar dakwahnya bisa semakin menguatkan iman para muallaf madinah dan juga melebarkan Islam di sana. Metode yang digunakan Mus'ab dalam berdakwah adalah menggunakan hikmah. Beliau dikaruniai kepiawaian dalam berbicara dan juga akhlak yang mulia. Ia juga tidak hanya mendakwahi kaum dari kalangan biasa, tapi juga pemuka kaum Madinah yang menjadi sasarannya. Terbukti dengan kepandaiannya dalam berdakwah, ia bisa mengislamkan salah satu tokoh penting Madinah yaitu Usaid bin Hudhair. Sehingga dakwah pun mudah diterima oleh masyarakat Madinah. Dikisahkan bahwa suatu hari, Mush’ab ditemani As’ad bin Zurarah pergi ke sebuah kebun milik Kabilah Bani Zhufr. Di sana Mush’ab mengajarkan Islam. Dua tokoh Yatsrib, Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz, merasa gerah dengan berita kedatangan Mush’ab. Mereka berniat mengusirnya dan melindungi kaumnya dari dakwah Mush’ab. “Datangilah Mush’ab dan As’ad,” kata Sa’adz bin Mu’adz kepada Usaid bin Hudhair, “mereka berdua telah mendatangi perkampungan kita untuk membodohi orang-orang lemah. Laranglah mereka. Jika saja aku bukan kerabat As’ad bin Zurarah, niscaya aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini.” “Baiklah,” kata Usaid sambil mengambil tombaknya, lalu pergi ke arah Mush’ab dan As’ad. Melihat Usaid ke arah mereka, As’ad mengatakan kepada Mush’ab, “Orang yang akan mendatangimu itu adalah pemuka kaum.” “Jika dia mau duduk, aku akan berbicara kepadanya,” jawab Mush’ab. Seperti niatnya semula, Usaid mencaci maki Mush’ab dan As’ad. “Mengapa kalian datang kepada kami, membodohi orang-orang lemah kami?! Pergilah kalian jika ingin selamat!” Mush’ab tetap tenang. Gesturnya menampakkan kegagahan. Wajahnya memancarkan keteduhan. Ia tidak terpancing dengan kata-kata Usaid, tidak juga takut. “Tidakkah Anda duduk sejenak, untuk mendengarkan kami,” kata Mush’ab dengan penuh ketenangan, “Jika Anda menyukainya, Anda bisa menerimanya. Namun jika Anda tidak menyukainya, kami akan pergi” Usaid, tokoh yang terkenal cerdas itu, memandang ide Mush’ab adalah ide yang tidak merugikannya sedikitpun. “Baik, ini adil,” jawabnya seraya menancapkan tombaknya ke tanah dan mengambil tempat duduk di depan Mush’ab. Mush’ab pun mulai berbicara. Kata-kata penuh hikmah mengalir dari lisannya. Ia membacakan ayat-ayat Al Qur’an, menjelaskan Islam. Sementara Usaid memperhatikan dengan seksama. Wajahnya berubah, dari penuh amarah dan kebencian menjadi wajah yang cerah. Hatinya terbuka dengan hidayah. “Alangkah bagus dan indahnya ucapan ini. Apa yang harus aku lakukan jika aku ingin masuk ke dalam agama ini?” Betapa terkejutnya kaum muslimin di sekitar Mush’ab. Dalam waktu singkat, pemimpin kaum itu berubah; dari marah-marah menjadi beroleh hidayah. Dari niat mengusir menjadi masuk Islam. “Silahkan engkau mandi, bersuci, menyucikan bajumu, lalu mengucapkan syahadat. Dan setelah itu melakukan shalat.” Dalam waktu singkat, dakwah Islam menyebar ke seluruh penjuru Yatsrib. Perkembangan dakwah Mush’ab ini bahkan lebih cepat dari perkembangan dakwah di Makkah. Jumlah muslim Madinah dalam tempo dua tahun bahkan lebih banyak daripada jumlah pengikut dakwah di Makkah selama dua belas tahun. 

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Kisah Mus'ab bin Umair, Shahabat yang Mengislamkan Penduduk Madinah "

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top