Gerbangkomputer

Download,Aplikasi,software,Tips dan trick,Tutorial,Kesehatan,Bisnis,Berita Unik,free mp3 dan lainnya gratis semua hanya disini

Cinta itu di Otak atau di Hati

ALLAH-LAH pencipta dunia serta seluruh isinya. Kehidupan yang bermuasal dari Adam dan Hawa ini, dimulai dengan kisah kasih dan cint. Berayat-ayat Allah turunkan wahyu yang khusus menerangkan tentang ini, tentang kehidupan sepasanag suami dan istrinya dengan tali cinta yang mengikat keduanya. Demikian kehidupan manusia bermul, dimulai oleh cinta. Cinta adalah suatu panggilan alami, ia lahir bersama lahirnya kita, kemudian tumbuh besar dan berkembang mengikuti setiap jenjang kehidupan kita. Pada anak kecil atau makhluk yang tak berakal, cinta berbentuk keinginan akan sesuatu yang memamng mereka butuh
 Beranjak besar dan menjadi makhluk yang berakal, cinta juga ikut besar bersamanya, berkembang menyesuaikanya. Cinta berjenis-jenis. Kamu cinta yang berdifinisi hasrat untuk memberi tanpa berharap menerima, seperti cinta orang tua kepada anak. Cinta jenis ini tak butuh support atau pendorong dari pihak lain untuk tumbuh, ia akan tetap lestari dan tetap ada.
Dan perlu diketahui bahwa hal ini tidak berjalan dua arah, cinta jenis ini tak dimiliki anak kepada orang tuanya. Karena itu, Al-Qur’an tak sedikit menempatkan diri sebagai suport bagi anak untuk menumbuhkan cinta kepada orang tuanya. Dan tidak sebaliknya.
Cinta adalah munculnya sekumpulan sikap-sikap positif dibarengi reaksi-reaksi tubuh hasil kerja jaringan tak sadar, seperti detakan  jantung atau merah pipi ketika bertemu dengan kekasih hati. Cinta, pada dasarnya bertemat pada otak sebagaimana jenis perasaan yang lain. Salah satu fungsi otak adalah menangani dan sebagai wadah sistem memori serta navigasi jaringan tubuh kita. Di sana ada sebuah bagian bernama lobus temporal, lobus ini selain bertugas menyimpan seluruh memori juga semua yang berkenaan dengan emosi dan perasaan, termasuk perasaan cinta maupun benci.sistem memori dan informasi data yang berhasil dijaring akan tersambug dengan sistem pengatur  emosi, perasaan, dan simpati. Sebagaimana kita lihat dalam kehidupan anta manusia. Misalnya, ketika saya bertemu seseorang di jalan yang saya tak mengetahuinya sama sekali, ta ada memori ataupun informasi data mengenai dia dalam lobus temporal otak saya maka sayapun akan lewat begitu saja, tanpa salam, tanpa sapa, dan seakan-akan tak terjadi apa-apa. Namun, berbeda jika memori atau informasi data mengenai dia telah terjaring dalam lobus temporal saya, otak saya akan menyambung memori perkenalan kami dengan sistem emosi dan rasa, kemudian sayapun memberinya salam.
Bagian lain, yaitu lobus frontal, mengampu tanggung jawab proses berfikir, mengolah informasi, gerak, juga rasa tenang. Secara umum, otak menjaring data melalui corong mata. Dari mata, semua data mengenai bentuk dan segala yangdilihat menyebar ke lobus-lobus otak, khususnya pada lobus temporal dan frontal, setelah sebelumnya melalui lobus oksipital yang berfungsi menelaah dat visual. Ketika data visual berhasil diterima, otak akan mengirim pesan ke oragan-organ lain sesuai permintaan data. Seperti saat kita bertemu dengan orang kita cintai, otak akan memberi pesan ke kelenjar otot atau tangan untuk menyalaminya, pesan kehati hingga frekuensi detakanya bertambah, serta ke serabut darah pada wajah yang membuat muka kita memerah, kemudian terakhir, kita akn berkata dialah sang pujaan hati. Umumnya, pesan-pesan otak yang terkirim ke organ-organ tersebut, meluncur secara otomatis ke hati, detak nadi, lidah, dan organ lain, tanpa mampu kita kendalikan penuh. Ketika bertemu dengan orang yang kita kasihi, saya mungkin biasa untuk tidak menjulurkan tangan untuk bersalaman denganya. Tetapi mstahil saya bisa mengurangi frekuensi detak hati yang kian tak terkontrol. Sistem keja ini yang dipakai  pengadilan dalam mendeteksi kebohongan sang terdakwa. Dengan menghadirkan gambar-gambar, kejadian, atau ucapan yang terkait dengan kasus didepanya, si pelaku mungkin saja bisa berbohong dengan mulutnya, tapi tidak dengan detak jantungnya yang makin berdegup, tidak dengan arus darah yang kian mengalir deras. Hingga diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Karena otak, sebagaiman penjelasan sebelumnya, mengirim pesan-pesan kebeberapa organ tubuh seperti hati, tanpa diakses terlebih dahulu ke lobus frontal yang mengoordinir perintah sadar. Ketika kita tahu ada sseorang dengan akal normal, sedang darinya tak pernah muncul ciri kecintaan kepada sesuatu, itu berati lobus frontal pada otaknya mengampu seluruh kerja pengiriman pesan ke organ lain selain hati.



Dari keteranagn di atas, kita tahu bahwa hati tak memiliki kaitan dengan apa yang disebut cinta, sebagaimana anggapan khalayak. Hati hanyalah salah stu dari sekian media yang digunakan otak untuk menyatakan cinta. Sering dikatakan bahwa mata dan telinga lebih dahulu merasakan nikmat sebelum hati. Ini ada benarnya, salah satunya karena, otak sebagi pusat cinta menerima data obyek dari mata dan telinga, kemudian mengolahnya lalu mengirim pesan reaksinya ke hati. Dengan kata lain, mata terlebih dahulu kemudian hati, namun mata tak mampu merasakan cinta, otak yang bisa merasaknya.
Cinta dalam bahasa psikologi didefinisikan sebagai refleksi balik, yaitu cinta akan timbul diantara dua pribadi ketika salah satunya berbuat baik kepada yang lain, berusaha mendekati dengan penuh kelembutan dan kasih, serta terus menerus. Orang-orang dulu misalnya, mereka berhasil mencintai istri-istri mereka justru setelah pernikahan, sebagai refleksi balik dari perlakuan baik dan kasih yang berkesinambungan.
Namun dalam beberapa keadaaan, cinta justru akan hancur oleh refleksi balik itu, yaitu ketika sang dicinta acuh tak acuh padanya, cinta akan luluh betapapun besarnya. Kita lihat banyak pasangan suami-istri yang dulu saling cinta, bahkan katanya setengah mati, layaknya cinta mereka kepada ibadah, namun hancur dikemudian hari. Iya, karena cinta mereka tak menemukan suplai mawaddah wa rahmah yang dibutuhkan untuk bertahan dan tumbuh.
Dalam banyak ungkapan, manusia mendudukan hati sebagai pahlawan dalam masalah cinta, sedang akal yang hasil kerja otak dinafi’kan peranya. Inilah, ketika cinta teralu ditinggikan alam neraca fikir. Karena otak, khususnya lobus frontal, yang Allah anugerahkan kepada manusia adalah pembeda antara kita dengan bangsa hewan. Di situ pusat nurani dan kekuatan, yang menjadikan manusia mampu menciptakan tekad, berjuang, dan tidak mau dianggap hina. Terlalu meninggalkan cinta, akan menutup mati peran akal dan menjadikanya kosong. Akal akan mengajak si empunya untuk memandang lebih jernih sebuah masalah, apakah hal itu hanya akan menyibukan aktifitasnya, membuang waktu, menjadikanya silau hingga tak ada yang ia fikirkan sealain sang pujaan hati pada siang dan malam, meninggalkan kehidupan dan kewajiban-kewajibanya. Iya, sebagaimana yang kita lihat di dunia anak remaja.
Sedangkan hati, seketika akan menampakan reaksinya, ia berdetak, ia berdenyut karena cinta, tanpa menunngu pesan dahulu darri lobus frontal dalam otak, karena perasaan cinta telah begitu mencengkeram dan menguasai otaknya. Oleh sebab itu, sikap tengah dan tak berlebihan dalam urusan cinta adalah yang ideal.
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
2 Komentar untuk "Cinta itu di Otak atau di Hati"

Hmmm... yang jadi petanyaan, "mengapa padasaat putus cinta
yang sakit itu hati? padahal cinta itu bepusat di otak, apa karna
terlalu meninggikan cinta? sehingga akal tak mampu bekerja
yang seharusnya melihat semua masalah secara jernih?".

Benar kalau cinta itu di otak.. sebagai contoh ada kisah nyata.. seorang wanita yang sangat mencintai kekasihnya, pada suatu saat dia terkena penyakit amnesia / atau kerusakan bagian otak (memori/ingtan). Secara spontan wanita itu pun langsung melupakan kekasihnya yang sangat dicintainya, bahkan tidak ada sedikitpun getaran cinta yang dulu dirasakan wanita itu.. dari sini bisa dibuktikan bahwa cinta itu ada didalam otak..

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top